Oodlebit

JIKA PRABOWO KALAH DALAM PILPRES 2019

JIKA PRABOWO KALAH DALAM PILPRES 2019 Disampaikan oleh : Drs. H. Marijanto Sastrodihardjo. Beberapa bulan lalu, Probowo mengutip karya Novel tentang prediksi Indonesia berpotensi bubar pada tahun 2030. Kata bubar di sini tentu bukan arti punahnya NKRI. NKRI mungkin malah akan jaya tetapi seperti yang disampaikan Cak Nun pernah katakan, bahwa saat itu bangsa Indonesia (Pribumi) cuma jadi jongos dan kehilangan kendali atas Indonesia tidak punya hak apapun terhadap Negara Indonesia. 
PRABOWO SUBYANTO
PRABOWO SUBIYANTO
Saat itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bermetamorfosis menjadi Negara Korporasi Republik Indocina. Yaitu Negara Komunis China bukan lagi Indonesia tetapi INDO CHINA, seperti yang citakan oleh RRC dan menjadi bagian Negara CHINA RAYA bukan RRC lagi itulah harapan Komunis China. Peringatan Prabowo itu mengingatkan kita pada proses kolonisasi China atas Singapura. Giliran kolonisasi Indonesia oleh Cina bukan suatu hal yang mustahil. Proses menuju itu dilakukan dalam empat tahap. Empat Tahab Menuju Kepunahan Indonesi nama Indonesia dan hilangnya hak Pribumi Indonesia yang sepenuh nya menjadi milik China Komunis menjadi Negara Komunis Indo China. 1. Pertama, melalui dominasi ekonomi. Tahapan ini telah mereka lewati dengan sukses. WNI turunan China sukses menguasai 85 % sektor ekonomi. Hulu dan Hilir. Sudah tidak ada lagi sektor yang tidak mereka rambah dan kuasai. Mulai dari bisnis perbankan, agri bisnis, bisnis property, pabrikan, perhotelan, ekspor-impor, otomotif, perkebunan, kehutanan, pertambangan, media massa, hingga ke hal yang paling mendasar dan strategis, yakni jadi agen, pedagang menengah, eceran dan distributor serta eksportir dan importir kebutuhan sembako, seperti minyak makan, beras, gula, garam, bawang putih dan merah dll. 2. Kedua, penguasaan tanah. Oleh sebuah badan dunia, sebagaimana yang dikutip oleh Amien Rais, saat ini tanah negeri ini mulai dari hutan dan lahan pertanian serta pertambangan 74 % dikuasai mereka. Artinya, negeri ini sudah kehilangan kedaulatan atas sumber daya alamnya, yang semua didukung oleh Pejabat Pribumi yang korup dan yang memikirkan diri dan golongan mereka, sehingga menjadi Pengkhianat Negara dan Bangsa. 3. Ketiga, demografi. Beberapa tahun belakangan ini populasi orang cina melonjak pesat di sejumlah kota besar Indonesia, seperti Medan, Jakarta, Surabaya, Bali, Semarang, Bandung, Menado, Pekan Baru dan Kepulauan Riau. Pesatnya pertumbuhan mereka ditengarai selain melalui angka kelahiran yg memang tidak dibatasi pemerintah -- diduga masuk melalui gelombang imigran gelap setiap tahunnya. Atau memanfaatkan kebijakan pemerintah (Kepres 20 2018 ttg TKA) -- yg mempermudah masuknya tenaga kerja dari cina dalam kaitannya dengan banyaknya investasi dan proyek RRC saat ini di Indonesia. Indikasi politik demografi ini terlihat dari menjamurnya pemukiman pemukiman yang diduga diperuntukkan untuk imigran China di berbagai kota saat ini. 4. Ke-empat Para pengembang China sedang giat giatnya membangun kota baru buat hunian mereka. Pesatnya pertumbuhan orang orang China di negeri ini berbanding lurus dengan keberhasilan mereka memiliki dan menguasai lahan hunian yang makin hari makin luas. Baik karena dibeli dengan harga yang menggiurkan dari Pribumi maupun dengan cara-cara mafia, seperti penggusuran Pribumi secara paksa ala Kali Jodo oleh pejabat China Ahok saat itu, Kampung Pulo dan Luar Batang dan Pasar Ikan Jakarta, maupun perampasan tanah negara seperti perampasan tanah PT KAI seluas 8,5 hektar di Medan yang sekarang berdiri megah gedung point center. Belum lagi kasus dugaan pengalihan fungsi ribuan hektar lahan ex perkebunan negara menjadi perumahaman mahal di pinggiran kota Medan. 5. Kelima, kalau dulu orang orang China Cuma terkonsentrasi di inti kota untuk berbinis—sehingga Pribumi tersingkir ke pinggiran— saat ini seiring dengan semakin meledaknya jumlah populasi WNI — mereka sudah pula menguasai lahan hunian di pinggiran. Meningkatnya jumlah populasi dan penguasan mereka akan wilayah, akan mempengaruhi politik demografi.
6. Ke-enam, kalau hari ini mereka baru tahap menguasai wilayah, tidak lama lagi karena komposisi penduduk dan luasnya wilayah yang mereka miliki, mereka segera akan jadi penguasa wilayah tersebut. Apakah jadi gubernur, walikota sebagai sebagamana pernah terjadi pada DKI, Kalimantan Barat, Bangka Belitung dan nyaris Medan. “Kolonialisasi” China memang lebih halus dibanding dengan Belanda. Tetapi sesungguhnya mereka lebih licik. Melalui gelombang populasi itu, saat ini mereka sedang mengembangkan doktrin penjajahan sipil atas Indonesia. Bila Belanda membawa bedil (tentera) untuk mengkoloni Indonesia. Cina tidak memerlukan bedil untuk mengukuhkan hegomoni politiknyanya di Indonesia, tapi dengan uangnya yang banyak mereka dengan mudahnya bisa “membeli” oknum oknum bersenjata bahkan pemimpin Negeri untuk mengamankan kepentingan mereka. 7. Sekarang China China itu sedang memasuki tahapan ke-tujuh, yakni tahapan menegakkan supremasi politik. Pasca reformasi orang-orang China mulai memasuki dunia politik. Hasrat memasuki dunia politik ini terkait dengan kesuksesan mereka menguasai ekonomi. Superioritas di bidang ekonomi itu telah melahirkan kelompok China terpelajar. Kelompok inilah yang mendorong lahirnya superioritas di bidang politik. Mereka tidak lagi puas mendominasi di bidang ekonomi saja. Mereka ingin ikut ambil bagian dalam kekuasaaan bahkan pasti akan merebut dan memiliki kekuasaan penuh. Dengan uangnya yang banyak dan penguasaan media yang luas, baik koran maupun televisi -- politisi politisi China relatif cepat melesat popular. Dalam konteks inilah Ahok muncul dan hadir sebagai simbol kebangkitan superioritas politik China di Indonesia. 8. Target para politisi China itu bukan cuma mendudukkan Ahok Gubernur DKI, tetapi menjadikan Ahok jadi RI -1. Karena itulah sosok Ahok dipoles sedemikian rupa sebagai Mr. Clean. Anti korupsi. Walaupun kenyataannya Ahok diduga terlibat korupsi Sumber Waras, Malpraktek kebijakan reklamasi dll. Alhamdulilah, mulut Ahok keseleo. Ahok kalah dan “masuk” mako Brimob, sebagai aparat Pembela China Komunis untuk memuluskan penyerahan Kedaulatan NKRI. Namun hilangnya kesempatan Ahok tidak otomatis mematahkan ambisi China melanjutkan rencana mereka mewujudkan doktrin penajajahan sipil mereka atas negeri ini. Tidak. 9. Kesembilan, melalui politik populasi, diperkirakan, kalau pemerintahan Jokowi tidak segera mengeluarkan regulasi membatasi jumlah keberadaan orang China di Indonesia – kalau pemerintah tidak segera melakukan kebijakan merazia dan memulangkan imigran gelap yang masuk ke Indonesia – kalau pemerintah masih ngoyo dan ngeyel mempermudah masuknya tenaga kerja China yang tidak dibatasi masa tinggalnya – saya pribadi memperkirakan pasca pilpres 2019 negeri ini akan dibanjiri bangsa China. Jumlah mereka bisa lebih banyak atau menyamai jumlah Pribumi. Target mereka ialah memenangkan capres dari kalangan bangsa mereka sendiri pada Pilpres 2024 dan kemenangan Pilpres tahun 2019 ini, pengaruhnya dan seterusnya, memudahkan mengubah dan menguasai sepenuh nya Indonesia dan memuluskan keinginan nya NKRI menjadikan Negara Komunis Indo China, yang bagian dari Negara China Raya. Jadi pantaslah seorang Prabowo mencemaskan bahwa Indonesia akan bubar 2030. Saya pikir kecemasan yang disuarakan Prabowo adalah juga kecemasan kita semua. Kecemasan ratusan juta anak bangsa. Semua tentunya terpulang kepada kesadaran para Pribumi. “kami sudah kerjakan apa yang bisa kami kerjakan. Sekarang kaulah yang tentukan arti nilai tulang tulang berserakan”…..ucap Khairil Anwar. Apakah kemerdekaan yang ditebus oleh pendahulu pendahulu kita dengan mengorbankan nyawa dan darah akan kita biarkan dirampas mereka, yang didukung pejabat pengkhianat Negeri ini...? Sebuah sajak Chairil Anwar yang layak direfleksikan lebih jauh, dalam kaitan Pilpres besuk atau prediksi masa depan negeri ini. Hayo renungkan dengan hati yang bersih... dan jujur tentunya..... Jika kita tidak mau dijajah China maka hanya jalan terbaik pilih Capres yg tdk berpihak atau tergantung pada kekuasaan china , karena mereka yang bertekad mengembalikan kedaulatan Negara ini dan kembali ke UUD 1945 asli dan Pancasila murni tanpa unsur Komunis dan PKI. Jangan lah lupa untuk dibarengi dengan niat baik... Semoga dengan niat baik itu Allah SWT memberikan kelancaran dalam segala urusan kita... Keberkahan dalam rezeki kita... Dijaga dari segala mara bahaya... Diluaskan rezeki kita... Dijaga Aqidah kita beserta keluarga dan anak cucu kita dari segala aliran dan ajaran yang menyimpang... Dan ditutup Umur kita semua dalam keadaan Husnul Khotimah... Hadiah untuk saudaraku yang kucinta... Semoga kita menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain. Robbanna Taqobbal Mina. Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami), Aamiin Aamiin YRA.

0 Response to "JIKA PRABOWO KALAH DALAM PILPRES 2019"

Post a Comment

Silahkan berkomentar yang relevan dan jangan melakukan SPAM atau meninggalkan link hidup demi kebaikan dan terjamin keindahan dalam persahabatan.